Rabu, 03 Juli 2013

ini lebih menyakitkan dari pada mencintaimu diam-diam



            Mencintai seorang diam-diam. Itu yang aku rasakan. Memang sangat menyakitkan, terlebih jika orang itu tidak peka pada perasaan kita. Tapi apa boleh buat? Cinta yang membuatku buta tentang hal itu. Cinta yang membuatku kebal sehingga aku tak pernah lelah bahkan aku tak pernah sadar jika cinta itu meyakitkan.

            Memang terkesan aneh, bagaimana mungkin kita mengharapkan Cinta itu datang pada kita jikalau kita mencintainya secara diam-diam. Mencintai diam-diam, yang aku lakukan hanya memandangimu dari jauh dan ketika kau melihatku yang sedang memandangimu, aku langsung mengutarakan pandanganku pada objek yang lain. Aku tidak ingin kau tau bahwa aku sedang memperhatikanmu.

            Lelah, ya memang lelah. Tapi inilah adanya. Aku tidak bisa berbuat lebih. Aku hanya bisa mengagumi dari jauh. Bahkan ketika aku berpapasan denganmu, aku sama sekali tidak berani menyapamu, oh hey jangankan untuk menyapa. Untuk sekedar memandangi wajahmu aku tak berani.

            Aku bingung, bagaimana mungkin perasaan ini singgah dihatiku. Meski aka tahu pada akhirnya aku yang akan sakit, aku yang akan rapuh karena Cinta itu sama sekali tidak menganggapku ada. Namun aku tak pernah menyerah. Aku masih saja mencari kesempatan untuk memandangimu secara diam-diam. Masih saja mengagumimu dari tempat yang jauh sekali. Ini semua ku lalukan kerena memang aku tak pernah bisa membuang perasaan ini dengan mudahnya.

            Sampai suatu hari aku tau bahwa kau telah mempunyai kekasih. Kau tahu bagaimana perasaanku? Jelas kau tak akan pernah tahu. Bagaimana mungkin kau tahu perasaanku, bahkan hal sepele tentangku saja kau tak pernah tahu, seperti.. Namaku. Ya, memang kau tak tahu hal-hal kecil pada diriku, tapi harus kau tahu. Aku tahu semua tentangmu, aku tahu semua yang kau suka, dan semua yang kau benci.

            Hatiku sakit.. sakit sekali. Sepertinya ujung belati yang tajam telah mengiris hatiku menjadi kepingan-kepingan kertas kecil yang siap untuk diletakkan ditempat sampah. Aku mengais beberapa lembar tisu pada kotak tissu dikamarku. Kamarku telah menjadi lautan tissu yang basah karena tetesan air yang keluar dari mataku.

            Aku memandangi fotomu yang saat itu aku jadikan walpaper dihandphoneku. Kau sedang menunjukkan jari telunjukmu padaku dengan seuntas senyuman yang mengembang indah dibibirmu. Kau sangat manis dengan pose seperti itu, jika saja senyum itu selalu kau berikan padaku. Mungkin aku akan menjadi seorang yang paling bahagia didunia kerena bisa mendapatkanmu.

            Ah persetan.. !! hati ini tidak akan ku biarkan seperti ini, aku harus melakukan suatu hal, aku ingin dia tahu dan mengerti tentang perasaanku. Meski ku tahu itu akan sia-sia mengingat kau telah bersanding dengan wanita cantik nan sempurna yang selalu ada disisimu.

            Selama ini aku hanya bisa terdiam dan meratapi nasibku. Sampai suatu hari tibalah saatnya untukku berpisah denganmu. Lulusan sekolah tinggal menghitung hari dan itu artinya aku tidak akan bisa memandangimu diam-diam seperti apa yang biasa aku lakukan padamu pada jam-jam istirahat sekolah.
            Entahkah, apa ini adalah kabar gembira atau sedih. Disatu sisi aku sedih karena tidak akan bisa mengagumi diam-diam tetapi di satu sisi aku merasa lega, karena aku pikir ini adalah ujung penantianku. Aku bisa melepas perasaan yang selama ini menggebu-gebu padamu.

            AKU LULUS ..... !!!!!  ya, aku lulus. Dan aku lulus dengan nilai terbaik disekolah. Aku senang, terharu juga bangga dengan diriku. Ada banyak ucapan selamat yang terucap untukku. Tapi ada yang kurang, aku mengharapkan kau yang mengucapkan selamat untukku. Huhh.. ingat, itu tidak akan mungkin terjadi.

            Aku menundukkan wajahku dalam-dalam. Dalam hatiku sangat mengharapkan kau akan mengucapkan kata “selamat” padaku. Dalam pikiranmu, memikirkan kapan waktu akan berpihak padaku. Aku lelah dengan penantian ini yang selalu berharap kau akan datang padaku tanpa ku beritahukan, tanpa kuceritakan perasaanku sebenarnya. Air mataku nyaris jatuh karenamu bersamaan dengan kepala sekolah yang memanggil namaku melalui Microphone diatas panggung.

            Aku melangkahkan kakiku perlahan menuju ke atas panggung atas permintaan kepala sekolah. Beliau memberikan penghargaan padaku atas nilai terbaik yang aku peroleh dari hasil Ujian Nasional yang telah aku jalani. Aku melihat beberapa pasang mata saat ini tertuju padaku. Tetapi bola mataku mencari dimana tempat kau duduk menyaksikan aku saat ini. Dan ah yaa, ternyata kau disitu. Kau berada dibarisan paling belakang bersama.... pacarmu. Aku menggigit bibir bawahku dalam-dalam, aku tidak siap menjatuhkan air mataku saat ini dengan disaksikan ratusan siswa-siswi dibawah sana.

            Tetapi satu hal yang sangat aku banggakan saat ini adalah... paling tidak kau tahu siapa namaku, mengingat baru saja Bapak kepala sekolah memanggil nama lengkapku dengan lantangnya.

**********


                Aku sudah menginjak semester ketiga jurusan Sastra disalah Universitas terkenal di Malang. Kehidupanku mulai normal, tidak pernah aku dapati tekanan batin karena harus memandangimu diam-diam, karena memang kita tidak lagi satu lingkungan. Dan entah sekarang kau sedang menimba ilmu dimana. Bukannya aku tidak peduli, tapi keterbatasan informasi membuatku pasrah dengan keadaan.

            Aku memincingkan kelopak mataku, melihat laptopku yang berwarna putih cerah menarik perhatianku untuk menggunakannya. Aku segera membuka laptop lengkap dengan modem. Aku arahkan kursor dengan mengeklik dua kali pada aplikasi Moziila firefox. Lantas aku mengetik URL yang beralamat facebook.com. jarang sekali aku membuka akun facebookku. Dan saat ini aku membukanya, siapa tahu aku menemukanmu namamu di list chat.
            Dan ya, dugaanku tepat sekali. Namamu berada pada list paling atas, aku segera mengeklik namamu dan muncullah table chat disana. Aku menulis kata sapaan disana, dan ketika tanganku ingin mengeklik tombol enter rasanya seperti tertahan benda berat di punggung telapak tanganku.
            Aku berfikir, “untuk apa aku menyapanya duluan. dia sendiri belum tentu mengenalku siapa. Hanya aku yang mengenalnya sejauh ini.”
            Niatku untuk menyapamu seketika pudar dilahap rasa ketakutan. Aku takut kau mempunyai pemikiran bahwa aku adalah gadis genit murahan yang selalu menyapa pria telebih dahulu. Argghh.. aku tidak bisa menahan ini. Aku benar-benar merindukanmu, hampir satu tahun lebih aku tidak pernah bertemu denganmu.

            Aku lantas menekan perintah log out di pojok kanan layar laptop. Aku benar-benar frustasi. Difikiranku hanya satu. Aku merindukannya dan aku harus mendapatkan informasi tentangnya. Tapi bagaimana caranya? Ini terlalu naif untukku.
            Apa aku harus meminjam akun facebook temanku untuk mendapatkan informasi darimu? Ah bodoh. Tentu saja aku tidak ingin ada orang yang tahu bahwa aku yang selama ini mengagumimu dan selalu mencari informasi tentang kehidupanmu.
            Satu-satunya cara yaitu.. aku harus menyamar. Ya aku harus menyamar dengan akun palsu. Oke, aku fikir itu ide yang bagus ! aku langsung mengisi data untuk membuat akun baru dan memasangnya dengan foto gadis cantik yang sangat gampang aku dapatkan mengingat ada mesin pencari yang sangat canggih –google–
            Aku tersenyum kecil melihat akun palsuku yang sangat konyol. Akupun langsung membuka URL akun facebookmu dan dengan gerakan cepat aku langsung mengirimkan permintaan pertemanan padamu. Hanya menunggu beberapa detik kau langsung accept permintaan pertemananku.
            Tak ku sangka, ternyata kau tertarik dengan akun palsu yang baru saja aku buat. Kau mengirimkan kata sapaan pada akun itu, entah aku merasakan perasaan ganda saat itu. Senang dan sedih. Jelas aku senang karena kau meyapaku meski yang kau tahu itu bukanlah diriku. Dan aku juga sedih, mengapa kau tak pernah menyapaku seperti kau manyapa akun palsu yang aku buat.

            Sebisa mungkin aku membuatmu nyaman untuk terus ngobrol dengan akun palsu itu, hingga akhirnya kau memutuskan untuk berhubungan lebih dekat denganku, yaitu kau memintaku untuk memberikan nomer handphone untukmu. Dan aku turuti itu.
            Selang beberapa waktu, aku merasa sangat nyaman denganmu. Perasaanku sama sekali tidak berubah seperti beberapa tahun yang lalu. Aku sangat bersyukur bisa lebih dekat denganmu. Ini seperti mimpi indahku yang baru saja terwujud. Meski ku tahu kau menganggapku sebagai “Oliv” bukan sebagai “Indah”.

            Aku harap hal seperti ini akan berlangsung lama, sehingga nantinya aku sadar bahwa kau terpikat oleh pesona Oliv, bukan Indah. Sehingga nantinya aku akan sadar, bahwa aku akan mengalami masalah batin karena ulahku. Nantinya aku akan sadar, bahwa kau tak pernah menganggapku ada, seperti kau menganggap Oliv yang sanagt spesial saat ini.

            Lagi-lagi aku sakit, aku merasa fungsi jantung dan hatiku kini tiak berfungsi lagi. Kelopak mataku seketika memanas memandangi isi pesan yang baru saja kau kirimkan padaku. Tidak, maksudku untuk Oliv.

            Kau mengatakan bahwa kau telah jatuh hati kepadaku (oliv bukan indah). Bukankah itu sangat menyakitkan hah? Kau tertarik dengan Oliv yang selama ini tidak benar-benar ada. Bahkan kau selama ini yang menghidupkannya seolah Oliv benar-benar hidup didunia ini. Aku ingin kau menganggapku sebagain Indah, bukan Oliv. Aku ingin kau mengatakan bahwa kau tertarik pada Indah, bukan kepada Oliv.
            Ini jauh lebih menyakitkan ketika kau menyatakan cinta padaku tanpa mengetahui siapa aku sebenarnya dari pada kau menyakan Cinta pada gadis lain yang benar-benar real. Aku tahu ini semua salahku, aku yang mengundangmu untuk masuk dalam perangkap ini.

Dan sekarang, inilah akibatnya.
Ini jauh lebih menyakitkan dari pada ketika aku harus mencintaimu diam-diam.
Aku hanya ingin kau tahu..
Aku yang selama ini memperhatikanmu dari jarak yang sangat jauh.
Aku yang selama ini mengerti permasalahanmu walau kau tak pernah menceritakannya.
Dan jika suatu hari nanti kau mencari dimana oliv berada..
tidak akan pernah ada Oliv yang akan hidup untukmu.
yang ada hanyalah Indah, Indah yang mencintaimu secara diam-diam.

Sorry for typos, sorry for gaje. And sorry for anything :)

Summer and my happiness


Terkadang hidup tidak seindah apa yang di harapkan
hidup tidak secanggih seperti apa yang ada di bayangan
hidup juga tidak semudah apa yang di katakan
Tapi percayalah, hidup akan menuntunmu
hidup akan mengajarimu banyak hal dari kesalahan


Fannie’s view

            Winter, musim yang sangat aku idamankan. Sebuah musim dimana aku selalu menghabiskan waktuku bersama teman-teman. Segudang aktivitasku menumpuk pada saat Winter, karena saat itulah aku bisa melatih tubuhku untuk lebih aktif  lagi berjalan tanpa harus tertatih dan terlihat sakit.
            Aku suka Winter, karena disaat Winter aku bisa selalu aktif bertemu dengan teman-temanku disekolah, belajar bersama, menyaksikan pertandingan olaharaga di sekolahku.
            Winter, aku ingat sekali kala itu adalah winter pertama yang sangat membuatku berkesan menjalani hidup. Kelley  jonshon  yang merupakan ketua cheerleaders disekolahku membuka pendaftaran untuk mengantinya sebagai ketua cheerleaders yang baru.

            Aku sangat tertarik dengan audisi itu, dan dengan dorongan dari sahabat-sahabatku, akupun mengikuti kontest itu, karena memang dari kecil impian terbesarku adalah menjadi Penari Internasional yang bisa di kenal oleh seluruh penjuru dunia.
            Coba tebak, aku benar-benar tidak menyangka bisa menggantikan posisi kelley sebagai ketua cheerleaders, yeah I’m a captain cheerleaders.
duniaku benar-benar berubah saat itu, aku begitu mensyukuri posisiku, dan hasilnya, aku benar-benar seperti menjadi sosok seorang ratu di sekolah ini.
            Tidak ada satupun yang tak mengenalku, aku begitu bangga dengan diriku saat itu. Semua orang memuji penampilanku yang terlihat elegan dimata semua orang.

            Duniaku tiba-tiba berubah menjadi gelap, kelam kelabu. Semuanya bercampur menjadi satu, seperti kopi hitam pekat yang seketika panas langsung diminum dengan lahapnya, itulah aku sekarang.
            Winter memang tidak akan pernah bersahabat dengan Summer.
            “aku benci summer, aku benci summer, aku benci summer”
Kalimat itu selalu terpampang dalam benakku, aku benci sekali dengan keadaan ini, aku benci !
            kenapa harus ada summer? Summer yang membuatku kehilangan semua mimpi-mimpiku, summer yang membuatku kehilangan teman-temanku, summer membuatku kehilangan segalanya.
            “aku benci summer”

-------------------------------------
            Summer benar-benar membuat hidupku berubah, aku selalu merindukan Winter kala Summer datang, aku benar-benar muak kala mengingat potongan potongan klise yang membuatku sangat membenci summer.
             

******
Author’s view

            Summer, adalah musim yang sangat di tunggu oleh sebagian besar pelajar di berbagai dunia yang mempunyai musim ganda. Karena di saat summer adalah waktu yang tepat dimana mereka akan menghabiskan waktu mereka untuk melakukan hal tak pernah mereka lakukan dikala winter. Bahkan mereka tidak perlu melilit tubuh mereka dengan tumpukan cardigan dan jas-jas tebal yang selalu dikenakan saat winter.

            “hari pertama dimusim panas, what are you going to do?” pria berambut hitam tebal mencoba melontarkan sebuah pertanyaan pada fannie.
            “aku? Mungkin lebih baik jika aku menghabiskan waktu summer dengan berdiam diri di rumah” jawabnya ketus.
            Pria itu lantas mengernyitkan alisnya heran. “are you sure? This’s summer. Not winter”
            “what’s your problem? This’s-my life.”  Terjadi penekanan disetiap suku kata dari setiap ucapan yang baru saja ia lontarkan.
            “Fannie..”
            “Bismaa..-ngg”
            Mereka berdua terjebak dalam sebuah tatapan intens, keduanya saling memandang bola mata yang berlawanan. 7 detik selanjutnya mereka menyadari bahwa beberapa detik yang lalu telah melewati masa hening.
            “—ngg maaf. Baiklah akan ku antar kamu pulang” Pria itu mencoba membantu fannie untuk bangkit dari tempat duduk yang sekitar beberapa menit yang lalu mereka duduki.
            Fannie mengangguk nurut, detik selanjutnya fannie meresa ada lengan yang menyentuh punggungnya lantas menjatuhkan fannie ke dalam lekuk lengannya itu. Sialan, ternyata Bisma. Apa yang akan ia lakukan?
            “menggendongmu nona, kau tak perlu lagi menggunakan tongkat itu lagi” tepat sekali, Bisma bisa membaca apa yang ada di pikiran fannie. Sial ! seketika itu wajah fannie memerah merona. Lantas menundukkan wajahnya dalam-dalam.
            Gadis itu memejamkan kelopak matanya dan merasakan nyaman saat seperti itu, sebelum akhirnya Ia merasa sudah berada didalam mobil bisma. Gadis itu masih sempat melirik ke arah bisma yang baru saja menggendongnya masuk kedalam mobil. Bisma terlihat sangat berkharisma. Sungguh pria itu dimatanya terlihat sangat menawan.

            “mau di antar kemana nona?” pria berambut tebal itu menarik seulas senyuman khasnya, terkesan menggoda namun itu sangat menggemaskan. Priadihadapannya itu menujukkan deretan giginya yang dihiasi dengan behel berwarna gelap.
            Lagi-lagi fannie merasa mati kutu dengan tindakan Bisma seperti itu, Bisma terlihat sangat mengagumkan. –ng tidak tidak, apa yang baru saja fannie katakan?
            “aku mau langsung pulang, oma pasti sangat mencemaskanku sekarang”

**********
Fannie sangat benci Summer. Summer yang membuatnya kehilangan fungsi kaki jenjangnya yang selalu gadis itu gunakan untuk menunjukkan performance terbaiknya. Tapi kini? Apa yang bisa dia lakukan sekarang.
            Sungguh mustahil baginya untuk berlegak legok mendukung Tim Basket sekolahnya di setiap pertandingan. Fannie tak berdaya, sungguh. Dia tak bisa melakukan apa-apa. Ini sangat menyakitkan.
            Hal itu tidak seberapa, dibanding ia harus kehilangan sosok ayah yang selama ini senantiasa menjadi sosok ayah sekaligus ibu untuknya. Ibunya telah lama tiada, sejak fannie masih berusia 3 tahun, ibunya meninggal karena penyakit difteri yang di deritanya.
            Lantas ayah dan neneknya berpindah ke New Jersey, tempat terbasah didunia.

            Besok adalah hari pertama dimusim panas, jelas sekali sekolahnya akan mengalami masa libur panjang. Bukankah itu menyenangkan? Tapi tidak untuk fannie. Mungkin jika semua teman-temannya akan menghabiskan masa liburannya dengan hal-hal yang menyenangkan seperti berkebun, memetik buah apel sepuasnya, berpiknik, bahkan menghabiskan waktu untuk mencoba permainan yang menguji adrenalin.
            Itu sangat mustahil untuk Fannie, summer telah mengubah banyak hal dari hidupnya.
gadis bermata coklat itu memutar bola matanya mengarah pada segerombolan remaja yang terlihat jelas di luar jendelanya. Ada banyak sekali remaja di luar sana dengan melakukan aktivitas yang tidak pernah dilakukan ketika winter.
“harusnya aku berada di luar sana, bermain bersama ayah, juga sahabat-sahabatku. Bukan seperti ini, berdiam diri dirumah dan meratapi nasip malangku” suara gadis itu bergemetar, nafasnya tak karuan di ikuti dengan isak tangis dari dirinya.
“apa yang sedang kau lihat?” suara keibu-an menusuk kedalam gendang telinga Fannie, membuat gadis itu menghapus air mata yang semula ia biarkan mengalir dipipi mulusnya itu.
“-ngg tidakk..” jawab fannie
“kenapa kau menangis? Apa yang sedang terjadi?”
“aku merindukan ayah..” gadis bermata coklat itu kembali menangis kedalam pelukan Oma-nya. Suasana hatinya kalut mengingat tepat satu tahun yang lalu gadis itu kehilangan sosok ayah untuk selama-lamanya.
“aku ingin ayah berada di sini, aku ingin melewat summer bersama ayah seperti halnya remaja lain. Aku merindukan ayah..”  omanya semakin mempererat pelukannya, mencoba menenangkan cucu satu-satunya itu. Omanya benar-benar mengerti apa yang sedang di rasakan oleh fannie.
“kau gadis yang tegar, hapuslah air matamu itu. Jangan pernah lagi tunjukkan air mata kesedihanmu pada Oma. Ayahmu pasti akan memarahi oma jika tau anak kesayangannya ini menangis seperti ini. Ingat apa pesan ayahmu dulu?” fannie menengadah menatap wajah omanya, mencoba meresapai kalimat yang baru saja beliau katakan. Lantas mengangguk perlahan.
“gadis pintar !!  jangan pernah merasa sendiri. Ada banyak orang disekitarmu yang sanagt menyayangimu. Bahkan bukan hanya oma. Sekarang mandilah, teman-temanmu sedang menunggu di ruang tamu”


*********

            “where are we going to go?” suara lembut gadis berambu panjang itu membuka percakapan.
            “kita akan pergi kesuatu tempat.” Bisma menjawab santai sambil mengedipkan matanya.
            Detik selanjutnya mereka mulai meninggalkan rumah Fannie dan berangkat menuju tempat yang akan mereka tuju. Menggunakan mobil Bisma yang beraroma Green tea yang sangat khas dan sangat relaks untuk menenangkan pikiran.
            Fannie yang duduk di kursi depan menemani Bisma yang sedang membawa mobil terlihat gelisah. Gadis itu tidak bisa diam, selalu saja menggeserkan tempat duduknya. Ada apa dengan gadis itu? Sementara teman-teman lainnya yamh duduk dikursi penumpang terdengar erisik dengan candaannya yang sangat menarik untuk dibahas.
            “are you okay?” Bisma mengernyitkan alisnya heran melihat Fannie yang sedari tadi tampak gelisah.
            “yes Iam.” Jawabnya singkat.
            “ada apa dengan kursi itu? Adakah hal yang membuatmu tidak nyaman untuk kau duduki di kursi mobilku itu?” Bisma mulai curiga, sesekali ia menatap gadis bermata gelap itu tanpa harus takut kehilangan konsentrasi menyetirnya itu.
            “–ng tidak, aa aa akuu hanya aa..”
            “hanya apa?” Bisma semakin penasaran olehnya. Lantas menatap gadis itu dengan tatapan intens dan semakin membuat Fannie merasa  Insecure.
            “Bismaaa awaaasssss.........”

            Fannie berteriak sekencang-kencangnya, bisma baru saja kehilangan kendali menyetir. Lelaki itu nampak kebingungan sekarang, pedal gas nya ia maju mundurkan sementara setirnya ia putar dengan cepat untuk menggambil keseimbangan mengemudinya.

            Brruuuussssshhhh...

Suara benturan keras sangat terdengar ditengah tengah jalan, mobil itu baru saja menghantam pohon besar yang berada dipinggir jalan. Bisma kehilangan konsentrasi menyetirnya hilang seketika. Kaca-kaca mobil itu pecah, mobil itu rusak berat. Bisma mengalami benturan keras pada kepalanya , begitu juga dengan Fannie, teman-teman yang lainnya mengalami luka ringan karena serpihan kaca mobil yang pecah. Suara aneh mulai terdengar beberapa menit setelah mobil itu menghantam pohon besar.
            “cepat.. cepat keluar fannie. Jess.. cepat bawa fannie keluar. Mobil ini akan segera meledak.” Bisma memerintah kepada jesica untuk membawa fannie keluar dari mobilnya. Suara lelaki itu sangat purau, nampaknya ia baru saja kehilangan banyak energi dan.. astaga darah dikepala Bisma mulai bercucuran dengan derasnya.
            Jessica dan Rachel telah mengelurkan Fannie dari dalam mobil itu, sedangkan mario sangat kesulitan untuk mengeluarkan Bisma, mengingat kondisi Bisma yang telah pingsan dengan darah bercucuran di kepalanya. Bisma terjebak di dalam mobil.
 Gerombolan warga setempat mulai datang untuk menyelamatkan korban-korban yang baru saja mengalami kecelakaan.
“call the ambulance, please..”  salah seorang warga mengingatkan untuk menelfon ambulance.
            “cepat menyingkir dari mobil itu.. selamatkan diri kalian, mobil itu akan segera meledak..”


*********


            Fannie’s view
           
            Bukankah aku pernah bilang, aku sama sekali tidak menyukai summer, aku sangat benci dengan summer. Aku benci dengan kegiatan yang pernah dilakukan ketika summer. Dan lihat sekarang.. lihaat.. aku kembali rapuh karena summer, hidupku hampir berakhir karena summer.
            Aku membulatkan kelopak mataku melihat Bisma yang sedang terbaring di ruang ICU. Keadaannya sangat lemas, lelaki itu tampak tidak mempunyai sedikit tenaga untuk berdiri, jangankan hanya berdiri untuk bicarapun kali ini dia tidak bisa. Beberapa alat-alat dokter mulai terpasang ditubuhnya. Kelopak matanya berkaca-kaca, ia masih sempat melirikku yang sedari melihatnya dibalik kaca tembus pandang diruangan itu.
            Aku mengepalkan tanganku membentuk bulatan tinju, kelopak mataku memanas. Ini semua karenaku. Ini semua ulahku, aku yang menyebabkan semuanya menjadi seperti ini. Aku ingat kepingan klise pada saat ayah terbaring lemas di ICU itu, tempat dan kondisi yang sama dengan yang dialami bisma saat ini.
            Tidak.. bisma harus pulih. Bisma harus bertahan. Aku tidak ingin kehilangan Bisma, aku tidak ingin kehilangan Bisma seperti saat aku kehilangan ayah. Bisma mengembangkan sedikit  bibirnya membentuk seulas senyuman, ia mencibirku yang sedang menangis. Aku lantas tersenyum untuk menguatkannya. Aku tahu Bisma kuat, dia akan bertahan. Bisma tidak boleh kalah dengan rasa sakit itu.
            “kau harus bertahan Bis” suaraku terdengar purau, berusaha menyemangatinya meski aku tau Bisma tidak akan mendengar suaraku yang terhalang oleh kaca tembus pandang.
            “Bissmaaaaa.....”

********

            Tiga jam telah berlalu, aku dan yang lain masih setia menunggu didepan ruang ICU, menunggu Dokter mengatakan sesuatu tentang keadaan Bisma. Aku tak henti-hentinya menangis, jessica meminjamkan pundaknya untukku, lantas aku menenggelamkan mukaku dalam-dalam disitu.
            “semuanya akan baik-baik saja, Bisma pasti kuat”  suara berat Mario mencoba menenangkanku yang sudah tenggelam dalam kesedihan yang mendalam.
            “ini semua karnaku..”
            “tidak fannie, tidakk. Semua ini adalah rencana-Nya”

            “tapi jess.. ini semua tidak akan terjadi jika saja Bisma tidak memperhatikanku tadi, aku benar-benar wanita pembawa sial!!!”
            Creeaakk.. pintu ICU terbuka, seorang dokter keluar dan menampakkan dirinya di depan pintu ICU. Aku lantas mengambil tongkat dengan gerakan cepat dan menghampiri dokter itu.
            “bagaimana keadaan Bisma dok?” tanyaku sesegukan/
            “Bisma kehilangan banyak darah, dan untungnya masih tersedia kantong darah untuk didonorkan padanya. Semua lukanya telah kami tangani. Tidak ada luka serius”
            “bolehkah kami menemuinya sekarang?” tanya Rachel menyangga.
            “sebaiknya jangan dulu, Bisma butuh istirahat lebih banyak untuk memulihkan rasa sakitnya”
            “pliss dok, hanya sebentar saja” sangganya lagi.
            “baiklahh. Tapi hanya satu orang dari kalian yang akan diperbolehkan masuk kedalam” kata dokter bijak.

            “kalau begitu, biarlah Fannie yang masuk kedalam” mario menyuruhku masuk untuk menemui Bisma. Aku melangkahkan kakiku bersama tongkat yang meyangga di lenganku. Bisma sedang tertidur pulas disana, di wajahnya terdapat bekas luka segar yang baru saja di obati oleh dokter. Aku menempatkan bongkongku pada kursi di sebelah kiri ranjang pasien.
            “bismaa...” suaraku lirih, mencoba untuk tidak mengganggu Bisma yang sedang istirahat.
            Aku meletakkan tanganku ditangan bisma, menggenggamnya erat-erat. Lantas deti selanjutnya kelopak mataku memenas. Tidaakk.. jangan menangis fan, kau tidak boleh terlihat rapuh sekarang.
            Tangan Bisma sedikit bergetar, segera mungkin aku menyeka air mataku yang hampir mengaliri pipiku. Bulu matanya mengerjap dan perlahan kelopak matanya terbuka. Senyum itu.. senyum itu selalu terpancar indah dari bibir pria berbola mata pekat itu. Bahkan dalam kondisinya yang seperti sekarang ini, dia masih sempat untuk menebarkan senyum itu.
            “apakah kau habis menangis?” tanyanya mencibirku. Aku terdiam tidak memberi jawaban atas pertanyaannya. Tangan Bisma semakin mempererat genggamannya pada tanganku. Kelopak mataku semakin memanas. Tak kuasa membendung air mata yang sedari tadi ingin meluncur membasahi pipiku.
            “heii.. kau jangan menangis fan”
            “semua ini karenaku, aku yang menyebabkan kecelakaan itu...”

            “tidak fannie, tidakk. Semuanya terjadi karena memang telah di takdirkan untuk terjadi” suaranya lirihnya mampu menyejukkan hatiku yang sedang dilanda perasaan gundah saat ini. Lelaki berbola mata pekat itu lantas bangun dengan tertatih. Aku menundukkan wajahku dalam-dalam. Berusaha untuk menghindari tatapan Bisma yang sangat.. nyaman. Oh heyy fannie, apa yang kau pikirkan. Aku menggelengkan kepalaku perlahan.

            “look at my eyes..” Bisma memengang daguku lantar mengangkatnya untukku bisa melihat wajahnya. Aku menurut.
            “aku tahu semua masalahmu, aku tahu kenapa kau sangat membenci summer. Dan kau tau apa alasanku tadi mengajakmu keluar?”
            Aku mengernyikan alisku heran lantas menggelengkan kepala.
            “dengar.. aku, Rachel, Jessica dan Mario mencoba untuk menghilangkan rasa bencimu terhadapa summer, aku ingkin kau seperti remaja lainnya yang sangat senang ketika menyambut summer. Meski aku tahu ini tidak akan berhasil mengingat ayahmuu..... hmm tapi kami yakin, kami akan mengubah sedikit pandanganmu terhadap summer. Summer tidak seburuk seperti apa yang kau fikirkan......”

            “tapi Bis.. summer yang telah membuatku kehilangan semua yang aku sayang. Aku kehilangan fungsi kakiku, lalu summer membuatku kehilangan ayah dan sekarang lihatt.. aku hampir saja kehilangan kamu. Dan ini semua karena summer” aku memotong pembicaraan Bisma.
            “ssttt.. tidak, ini bukan karena summer. Eh eh wait. apa yang baru saja kamu katakan? Kau kehilangan semau orang yang kamu sayang? Dan aku salah satunya. Jadi kauu...” pervert ! apa yang baru saja aku katakan? Ohh tidak.. aku menyeka air mataku yang sedari dari mengairi pipiku. Bisma tersenyum girang.
            “-ng.. maksudku, tentu saja kau termasuk orang yang ku sayang. Kau adalah sahabatku.... yahh kau adalah sahabatku bis..” huhh !! aku menghembuskan nafas panjang setelah mengtakan kalimat itu.
            “kau yakin hanya sekedar sahabat?” ahh sial ! Bisma berusaha untuk menggodaku saat ini. Pria itu memincingkan alisnya. Aku membuang muka darinya, berusaha menahan senyum dan yaa aku tidak mempunyai jawaban dari pertanyaannya.
            “would you be my girlfriend?”
            Apa.. apaa? Bisma baru saja mengatakan? Ahh tidak mungkin. Pria itu menarik wajahku untuk menatapnya kembali. Aku merasa.. yah aku merasa seluruh wajahku memanas sekarang. Mungkin jika saja aku mengambil cermin, aku bisa saja melihat wajahku yang sekarang bersemu memerah dengan pipi merona seperti kulit buah apel. Sial ! aku benar-benar mengutuk keadaan ini, seketika seperti ada bongkahan kerikil yang menari-nari didalam perutku.
            Bisma mendekatkan wajahnya didepan wajahku, sehingga menyempitkan jarak yang ada diantara kami berdua. Ng.. bisma apa yang ingin kau lakukan? Aku memejamkan mataku sedalam mungkin. Berharap aku tidak menyadari apa yang akan terjadi padaku selanjutnya. Aku merasa hidungnya telah menempel diujung hidungku, dan sesuatu yang hangat membasahi bibirku, aku semakin memejamkan mataku. Berusaha mengendalikan emosiku. Pria itu mengecup bibirku perlahan dengan sangat hati-hati. Aku terdiam tidak membalasnya.

            “eghhmm... jadi ini yang kalian lakukan di balekang kami..” rachel? Ya itu suara Rachel. Bisma menjauhkan wajahnya dari wajahku dan melepaskan ciumannya yang baru saja mandarat dibibirku.
            Aku tertunduk malu melihat Rachel, Jessica dan Mario telah berada didepan ranjang pasien.
            “bagaimanamungkin kalian jadian tanpa sepengetahuan kami?” goda mario dengan suara bassnya.
            “heyy guuyss.. kalian telah menganggu momenku barusan..” canda bisma mengundang tawa dari ruangan itu. “jadi, kita jadian yaa?” Bisma berbisik lembut ditelingaku. Lagi lagi pipiku terasa panas dan memerah.


******

Dan inilah arti summer bagiku.
Aku menemukan kisah baru dalam summer.
Aku sadar, meski hidup itu menyakitkan
Tapi tidak selamanya hidup membuatku sakit.
Meski summer telah membuatku kehilangan banyak hal..
tetapi summer menggantinya dengan hal yang lebih indah dari sebelumnya.



NB : sorry for gaje, sorry for typos, and sorry for anything :D
 this’s my firt story before long lime I didn’t post my story.
I just do my hobby, and this’is my hobby –writing-
perhaps there’s somebody who read my note although I know there isn’t anyone who read my notes. But it’s okeyy :)