Mencintai seorang diam-diam. Itu yang aku rasakan. Memang
sangat menyakitkan, terlebih jika orang itu tidak peka pada perasaan kita. Tapi
apa boleh buat? Cinta yang membuatku buta tentang hal itu. Cinta yang membuatku
kebal sehingga aku tak pernah lelah bahkan aku tak pernah sadar jika cinta itu
meyakitkan.
Memang terkesan aneh, bagaimana mungkin kita mengharapkan
Cinta itu datang pada kita jikalau kita mencintainya secara diam-diam. Mencintai
diam-diam, yang aku lakukan hanya memandangimu dari jauh dan ketika kau
melihatku yang sedang memandangimu, aku langsung mengutarakan pandanganku pada
objek yang lain. Aku tidak ingin kau tau bahwa aku sedang memperhatikanmu.
Lelah, ya memang lelah. Tapi inilah adanya. Aku tidak
bisa berbuat lebih. Aku hanya bisa mengagumi dari jauh. Bahkan ketika aku
berpapasan denganmu, aku sama sekali tidak berani menyapamu, oh hey jangankan
untuk menyapa. Untuk sekedar memandangi wajahmu aku tak berani.
Aku bingung, bagaimana mungkin perasaan ini singgah
dihatiku. Meski aka tahu pada akhirnya aku yang akan sakit, aku yang akan rapuh
karena Cinta itu sama sekali tidak menganggapku ada. Namun aku tak pernah
menyerah. Aku masih saja mencari kesempatan untuk memandangimu secara
diam-diam. Masih saja mengagumimu dari tempat yang jauh sekali. Ini semua ku
lalukan kerena memang aku tak pernah bisa membuang perasaan ini dengan
mudahnya.
Sampai suatu hari aku tau bahwa kau telah mempunyai
kekasih. Kau tahu bagaimana perasaanku? Jelas kau tak akan pernah tahu.
Bagaimana mungkin kau tahu perasaanku, bahkan hal sepele tentangku saja kau tak
pernah tahu, seperti.. Namaku. Ya, memang kau tak tahu hal-hal kecil pada
diriku, tapi harus kau tahu. Aku tahu semua tentangmu, aku tahu semua yang kau
suka, dan semua yang kau benci.
Hatiku sakit.. sakit sekali. Sepertinya ujung belati yang
tajam telah mengiris hatiku menjadi kepingan-kepingan kertas kecil yang siap
untuk diletakkan ditempat sampah. Aku mengais beberapa lembar tisu pada kotak
tissu dikamarku. Kamarku telah menjadi lautan tissu yang basah karena tetesan
air yang keluar dari mataku.
Aku memandangi fotomu yang saat itu aku jadikan walpaper
dihandphoneku. Kau sedang menunjukkan jari telunjukmu padaku dengan seuntas
senyuman yang mengembang indah dibibirmu. Kau sangat manis dengan pose seperti
itu, jika saja senyum itu selalu kau berikan padaku. Mungkin aku akan menjadi
seorang yang paling bahagia didunia kerena bisa mendapatkanmu.
Ah persetan.. !! hati ini tidak akan ku biarkan seperti
ini, aku harus melakukan suatu hal, aku ingin dia tahu dan mengerti tentang
perasaanku. Meski ku tahu itu akan sia-sia mengingat kau telah bersanding
dengan wanita cantik nan sempurna yang selalu ada disisimu.
Selama ini aku hanya bisa terdiam dan meratapi nasibku. Sampai
suatu hari tibalah saatnya untukku berpisah denganmu. Lulusan sekolah tinggal
menghitung hari dan itu artinya aku tidak akan bisa memandangimu diam-diam
seperti apa yang biasa aku lakukan padamu pada jam-jam istirahat sekolah.
Entahkah, apa ini adalah kabar gembira atau sedih. Disatu
sisi aku sedih karena tidak akan bisa mengagumi diam-diam tetapi di satu sisi
aku merasa lega, karena aku pikir ini adalah ujung penantianku. Aku bisa
melepas perasaan yang selama ini menggebu-gebu padamu.
AKU LULUS ..... !!!!! ya, aku lulus. Dan aku lulus dengan nilai
terbaik disekolah. Aku senang, terharu juga bangga dengan diriku. Ada banyak
ucapan selamat yang terucap untukku. Tapi ada yang kurang, aku mengharapkan kau
yang mengucapkan selamat untukku. Huhh.. ingat, itu tidak akan mungkin terjadi.
Aku menundukkan wajahku dalam-dalam. Dalam hatiku sangat
mengharapkan kau akan mengucapkan kata “selamat” padaku. Dalam pikiranmu,
memikirkan kapan waktu akan berpihak padaku. Aku lelah dengan penantian ini
yang selalu berharap kau akan datang padaku tanpa ku beritahukan, tanpa
kuceritakan perasaanku sebenarnya. Air mataku nyaris jatuh karenamu bersamaan
dengan kepala sekolah yang memanggil namaku melalui Microphone diatas panggung.
Aku melangkahkan kakiku perlahan menuju ke atas panggung
atas permintaan kepala sekolah. Beliau memberikan penghargaan padaku atas nilai
terbaik yang aku peroleh dari hasil Ujian
Nasional yang telah aku jalani. Aku melihat beberapa pasang mata saat ini
tertuju padaku. Tetapi bola mataku mencari dimana tempat kau duduk menyaksikan
aku saat ini. Dan ah yaa, ternyata kau disitu. Kau berada dibarisan paling
belakang bersama.... pacarmu. Aku menggigit bibir bawahku dalam-dalam, aku
tidak siap menjatuhkan air mataku saat ini dengan disaksikan ratusan
siswa-siswi dibawah sana.
Tetapi satu hal yang sangat aku banggakan saat ini
adalah... paling tidak kau tahu siapa namaku, mengingat baru saja Bapak kepala
sekolah memanggil nama lengkapku dengan lantangnya.
**********
Aku sudah menginjak semester ketiga jurusan Sastra disalah
Universitas terkenal di Malang. Kehidupanku mulai normal, tidak pernah aku
dapati tekanan batin karena harus memandangimu diam-diam, karena memang kita
tidak lagi satu lingkungan. Dan entah sekarang kau sedang menimba ilmu dimana.
Bukannya aku tidak peduli, tapi keterbatasan informasi membuatku pasrah dengan
keadaan.
Aku memincingkan kelopak mataku, melihat laptopku yang
berwarna putih cerah menarik perhatianku untuk menggunakannya. Aku segera
membuka laptop lengkap dengan modem. Aku arahkan kursor dengan mengeklik dua
kali pada aplikasi Moziila firefox.
Lantas aku mengetik URL yang beralamat facebook.com.
jarang sekali aku membuka akun facebookku. Dan saat ini aku membukanya,
siapa tahu aku menemukanmu namamu di list
chat.
Dan ya, dugaanku tepat sekali. Namamu berada pada list
paling atas, aku segera mengeklik namamu dan muncullah table chat disana. Aku
menulis kata sapaan disana, dan ketika tanganku ingin mengeklik tombol enter rasanya
seperti tertahan benda berat di punggung telapak tanganku.
Aku berfikir, “untuk apa aku menyapanya duluan. dia
sendiri belum tentu mengenalku siapa. Hanya aku yang mengenalnya sejauh ini.”
Niatku untuk menyapamu seketika pudar dilahap rasa ketakutan.
Aku takut kau mempunyai pemikiran bahwa aku adalah gadis genit murahan yang
selalu menyapa pria telebih dahulu. Argghh.. aku tidak bisa menahan ini. Aku benar-benar
merindukanmu, hampir satu tahun lebih aku tidak pernah bertemu denganmu.
Aku lantas menekan perintah log out di pojok kanan layar laptop. Aku benar-benar frustasi.
Difikiranku hanya satu. Aku merindukannya dan aku harus mendapatkan informasi
tentangnya. Tapi bagaimana caranya? Ini terlalu naif untukku.
Apa aku harus meminjam akun facebook temanku untuk
mendapatkan informasi darimu? Ah bodoh. Tentu saja aku tidak ingin ada orang
yang tahu bahwa aku yang selama ini mengagumimu dan selalu mencari informasi
tentang kehidupanmu.
Satu-satunya cara yaitu.. aku harus menyamar. Ya aku
harus menyamar dengan akun palsu. Oke, aku fikir itu ide yang bagus ! aku
langsung mengisi data untuk membuat akun baru dan memasangnya dengan foto gadis
cantik yang sangat gampang aku dapatkan mengingat ada mesin pencari yang sangat
canggih –google–
Aku tersenyum kecil melihat akun palsuku yang sangat
konyol. Akupun langsung membuka URL akun facebookmu dan dengan gerakan cepat
aku langsung mengirimkan permintaan pertemanan padamu. Hanya menunggu beberapa
detik kau langsung accept permintaan pertemananku.
Tak ku sangka, ternyata kau tertarik dengan akun palsu
yang baru saja aku buat. Kau mengirimkan kata sapaan pada akun itu, entah aku
merasakan perasaan ganda saat itu. Senang dan sedih. Jelas aku senang karena
kau meyapaku meski yang kau tahu itu bukanlah diriku. Dan aku juga sedih,
mengapa kau tak pernah menyapaku seperti kau manyapa akun palsu yang aku buat.
Sebisa mungkin aku membuatmu nyaman untuk terus ngobrol
dengan akun palsu itu, hingga akhirnya kau memutuskan untuk berhubungan lebih
dekat denganku, yaitu kau memintaku untuk memberikan nomer handphone untukmu.
Dan aku turuti itu.
Selang beberapa waktu, aku merasa sangat nyaman denganmu.
Perasaanku sama sekali tidak berubah seperti beberapa tahun yang lalu. Aku
sangat bersyukur bisa lebih dekat denganmu. Ini seperti mimpi indahku yang baru
saja terwujud. Meski ku tahu kau menganggapku sebagai “Oliv” bukan sebagai
“Indah”.
Aku harap hal seperti ini akan berlangsung lama, sehingga
nantinya aku sadar bahwa kau terpikat oleh pesona Oliv, bukan Indah. Sehingga
nantinya aku akan sadar, bahwa aku akan mengalami masalah batin karena ulahku.
Nantinya aku akan sadar, bahwa kau tak pernah menganggapku ada, seperti kau
menganggap Oliv yang sanagt spesial saat ini.
Lagi-lagi aku sakit, aku merasa fungsi jantung dan hatiku
kini tiak berfungsi lagi. Kelopak mataku seketika memanas memandangi isi pesan
yang baru saja kau kirimkan padaku. Tidak, maksudku untuk Oliv.
Kau mengatakan bahwa kau telah jatuh hati kepadaku (oliv bukan indah). Bukankah itu sangat
menyakitkan hah? Kau tertarik dengan Oliv yang selama ini tidak benar-benar
ada. Bahkan kau selama ini yang menghidupkannya seolah Oliv benar-benar hidup
didunia ini. Aku ingin kau menganggapku sebagain Indah, bukan Oliv. Aku ingin
kau mengatakan bahwa kau tertarik pada Indah, bukan kepada Oliv.
Ini jauh lebih menyakitkan ketika kau menyatakan cinta
padaku tanpa mengetahui siapa aku sebenarnya dari pada kau menyakan Cinta pada
gadis lain yang benar-benar real. Aku
tahu ini semua salahku, aku yang mengundangmu untuk masuk dalam perangkap ini.
Dan sekarang, inilah akibatnya.
Ini jauh lebih menyakitkan dari pada ketika aku harus mencintaimu diam-diam.
Aku hanya ingin kau tahu..
Aku yang selama ini memperhatikanmu dari jarak yang sangat jauh.
Aku yang selama ini mengerti permasalahanmu walau kau tak pernah menceritakannya.
Ini jauh lebih menyakitkan dari pada ketika aku harus mencintaimu diam-diam.
Aku hanya ingin kau tahu..
Aku yang selama ini memperhatikanmu dari jarak yang sangat jauh.
Aku yang selama ini mengerti permasalahanmu walau kau tak pernah menceritakannya.
Dan jika suatu hari nanti kau
mencari dimana oliv berada..
tidak akan pernah ada Oliv yang akan hidup untukmu.
yang ada hanyalah Indah, Indah yang mencintaimu secara diam-diam.
tidak akan pernah ada Oliv yang akan hidup untukmu.
yang ada hanyalah Indah, Indah yang mencintaimu secara diam-diam.
Sorry for typos, sorry for gaje.
And sorry for anything :)