Terkadang hidup tidak seindah apa
yang di harapkan
hidup tidak secanggih seperti apa yang ada di bayangan
hidup juga tidak semudah apa yang di katakan
hidup tidak secanggih seperti apa yang ada di bayangan
hidup juga tidak semudah apa yang di katakan
Tapi percayalah, hidup akan
menuntunmu
hidup akan mengajarimu banyak hal dari kesalahan
hidup akan mengajarimu banyak hal dari kesalahan
Fannie’s view
Winter, musim
yang sangat aku idamankan. Sebuah musim dimana aku selalu menghabiskan waktuku
bersama teman-teman. Segudang aktivitasku menumpuk pada saat Winter, karena
saat itulah aku bisa melatih tubuhku untuk lebih aktif lagi berjalan tanpa harus tertatih dan
terlihat sakit.
Aku suka Winter, karena disaat Winter aku bisa selalu
aktif bertemu dengan teman-temanku disekolah, belajar bersama, menyaksikan
pertandingan olaharaga di sekolahku.
Winter, aku
ingat sekali kala itu adalah winter pertama yang sangat membuatku berkesan
menjalani hidup. Kelley jonshon yang merupakan ketua cheerleaders disekolahku membuka
pendaftaran untuk mengantinya sebagai ketua cheerleaders yang baru.
Aku sangat tertarik dengan audisi itu, dan dengan
dorongan dari sahabat-sahabatku, akupun mengikuti kontest itu, karena memang
dari kecil impian terbesarku adalah menjadi Penari Internasional yang bisa di
kenal oleh seluruh penjuru dunia.
Coba tebak, aku benar-benar tidak menyangka bisa menggantikan
posisi kelley sebagai ketua cheerleaders, yeah
I’m a captain cheerleaders.
duniaku benar-benar berubah saat itu, aku begitu mensyukuri posisiku, dan hasilnya, aku benar-benar seperti menjadi sosok seorang ratu di sekolah ini.
duniaku benar-benar berubah saat itu, aku begitu mensyukuri posisiku, dan hasilnya, aku benar-benar seperti menjadi sosok seorang ratu di sekolah ini.
Tidak ada satupun yang tak mengenalku, aku begitu bangga
dengan diriku saat itu. Semua orang memuji penampilanku yang terlihat elegan
dimata semua orang.
Duniaku tiba-tiba berubah menjadi gelap, kelam kelabu.
Semuanya bercampur menjadi satu, seperti kopi hitam pekat yang seketika panas
langsung diminum dengan lahapnya, itulah aku sekarang.
Winter memang tidak akan pernah bersahabat dengan Summer.
“aku benci summer, aku benci summer, aku benci summer”
Kalimat itu selalu
terpampang dalam benakku, aku benci sekali dengan keadaan ini, aku benci !
kenapa harus ada summer? Summer yang membuatku kehilangan semua mimpi-mimpiku, summer yang membuatku kehilangan teman-temanku, summer membuatku kehilangan segalanya.
kenapa harus ada summer? Summer yang membuatku kehilangan semua mimpi-mimpiku, summer yang membuatku kehilangan teman-temanku, summer membuatku kehilangan segalanya.
“aku benci summer”
-------------------------------------
Summer benar-benar membuat hidupku berubah, aku selalu
merindukan Winter kala Summer datang, aku benar-benar muak kala mengingat
potongan potongan klise yang membuatku sangat membenci summer.
******
Author’s view
Summer, adalah musim yang sangat di tunggu oleh sebagian
besar pelajar di berbagai dunia yang mempunyai musim ganda. Karena di saat
summer adalah waktu yang tepat dimana mereka akan menghabiskan waktu mereka
untuk melakukan hal tak pernah mereka lakukan dikala winter. Bahkan mereka
tidak perlu melilit tubuh mereka dengan tumpukan cardigan dan jas-jas tebal
yang selalu dikenakan saat winter.
“hari pertama dimusim panas, what are you going to do?”
pria berambut hitam tebal mencoba melontarkan sebuah pertanyaan pada fannie.
“aku? Mungkin lebih baik jika aku menghabiskan waktu
summer dengan berdiam diri di rumah” jawabnya ketus.
Pria itu lantas mengernyitkan alisnya heran. “are you
sure? This’s summer. Not winter”
“what’s your problem? This’s-my life.” Terjadi penekanan disetiap suku kata dari
setiap ucapan yang baru saja ia lontarkan.
“Fannie..”
“Bismaa..-ngg”
“Bismaa..-ngg”
Mereka berdua terjebak dalam sebuah tatapan intens,
keduanya saling memandang bola mata yang berlawanan. 7 detik selanjutnya mereka
menyadari bahwa beberapa detik yang lalu telah melewati masa hening.
“—ngg maaf. Baiklah akan ku antar kamu pulang” Pria itu
mencoba membantu fannie untuk bangkit dari tempat duduk yang sekitar beberapa
menit yang lalu mereka duduki.
Fannie mengangguk nurut, detik selanjutnya fannie meresa ada
lengan yang menyentuh punggungnya lantas menjatuhkan fannie ke dalam lekuk
lengannya itu. Sialan, ternyata Bisma. Apa
yang akan ia lakukan?
“menggendongmu nona, kau tak perlu lagi menggunakan
tongkat itu lagi” tepat sekali, Bisma bisa membaca apa yang ada di pikiran
fannie. Sial ! seketika itu wajah fannie memerah merona. Lantas menundukkan
wajahnya dalam-dalam.
Gadis itu memejamkan kelopak matanya dan merasakan nyaman
saat seperti itu, sebelum akhirnya Ia merasa sudah berada didalam mobil bisma.
Gadis itu masih sempat melirik ke arah bisma yang baru saja menggendongnya
masuk kedalam mobil. Bisma terlihat sangat berkharisma. Sungguh pria itu
dimatanya terlihat sangat menawan.
“mau di antar kemana nona?” pria berambut tebal itu
menarik seulas senyuman khasnya, terkesan menggoda namun itu sangat
menggemaskan. Priadihadapannya itu menujukkan deretan giginya yang dihiasi
dengan behel berwarna gelap.
Lagi-lagi fannie merasa mati kutu dengan tindakan Bisma
seperti itu, Bisma terlihat sangat
mengagumkan. –ng tidak tidak, apa yang baru saja fannie katakan?
“aku mau langsung pulang, oma pasti sangat mencemaskanku
sekarang”
**********
Fannie
sangat benci Summer. Summer yang membuatnya kehilangan fungsi kaki jenjangnya
yang selalu gadis itu gunakan untuk menunjukkan performance terbaiknya. Tapi
kini? Apa yang bisa dia lakukan sekarang.
Sungguh mustahil baginya untuk berlegak legok mendukung
Tim Basket sekolahnya di setiap pertandingan. Fannie tak berdaya, sungguh. Dia
tak bisa melakukan apa-apa. Ini sangat menyakitkan.
Hal itu tidak seberapa, dibanding ia harus kehilangan
sosok ayah yang selama ini senantiasa menjadi sosok ayah sekaligus ibu
untuknya. Ibunya telah lama tiada, sejak fannie masih berusia 3 tahun, ibunya
meninggal karena penyakit difteri yang di deritanya.
Lantas ayah dan neneknya berpindah ke New Jersey, tempat
terbasah didunia.
Besok adalah hari pertama dimusim panas, jelas sekali
sekolahnya akan mengalami masa libur panjang. Bukankah itu menyenangkan? Tapi
tidak untuk fannie. Mungkin jika semua teman-temannya akan menghabiskan masa
liburannya dengan hal-hal yang menyenangkan seperti berkebun, memetik buah apel
sepuasnya, berpiknik, bahkan menghabiskan waktu untuk mencoba permainan yang
menguji adrenalin.
Itu sangat mustahil untuk Fannie, summer telah mengubah
banyak hal dari hidupnya.
gadis
bermata coklat itu memutar bola matanya mengarah pada segerombolan remaja yang
terlihat jelas di luar jendelanya. Ada banyak sekali remaja di luar sana dengan
melakukan aktivitas yang tidak pernah dilakukan ketika winter.
“harusnya
aku berada di luar sana, bermain bersama ayah, juga sahabat-sahabatku. Bukan
seperti ini, berdiam diri dirumah dan meratapi nasip malangku” suara gadis itu
bergemetar, nafasnya tak karuan di ikuti dengan isak tangis dari dirinya.
“apa
yang sedang kau lihat?” suara keibu-an menusuk kedalam gendang telinga Fannie,
membuat gadis itu menghapus air mata yang semula ia biarkan mengalir dipipi
mulusnya itu.
“-ngg
tidakk..” jawab fannie
“kenapa
kau menangis? Apa yang sedang terjadi?”
“aku
merindukan ayah..” gadis bermata coklat itu kembali menangis kedalam pelukan
Oma-nya. Suasana hatinya kalut mengingat tepat satu tahun yang lalu gadis itu
kehilangan sosok ayah untuk selama-lamanya.
“aku
ingin ayah berada di sini, aku ingin melewat summer bersama ayah seperti halnya
remaja lain. Aku merindukan ayah..”
omanya semakin mempererat pelukannya, mencoba menenangkan cucu
satu-satunya itu. Omanya benar-benar mengerti apa yang sedang di rasakan oleh
fannie.
“kau
gadis yang tegar, hapuslah air matamu itu. Jangan pernah lagi tunjukkan air
mata kesedihanmu pada Oma. Ayahmu pasti akan memarahi oma jika tau anak
kesayangannya ini menangis seperti ini. Ingat apa pesan ayahmu dulu?” fannie
menengadah menatap wajah omanya, mencoba meresapai kalimat yang baru saja
beliau katakan. Lantas mengangguk perlahan.
“gadis
pintar !! jangan pernah merasa sendiri.
Ada banyak orang disekitarmu yang sanagt menyayangimu. Bahkan bukan hanya oma.
Sekarang mandilah, teman-temanmu sedang menunggu di ruang tamu”
*********
“where are we going to go?” suara lembut gadis berambu
panjang itu membuka percakapan.
“kita akan pergi kesuatu tempat.” Bisma menjawab santai
sambil mengedipkan matanya.
Detik selanjutnya mereka mulai meninggalkan rumah Fannie
dan berangkat menuju tempat yang akan mereka tuju. Menggunakan mobil Bisma yang
beraroma Green tea yang sangat khas dan sangat relaks untuk menenangkan
pikiran.
Fannie yang duduk di kursi depan menemani Bisma yang
sedang membawa mobil terlihat gelisah. Gadis itu tidak bisa diam, selalu saja
menggeserkan tempat duduknya. Ada apa
dengan gadis itu? Sementara teman-teman lainnya yamh duduk dikursi
penumpang terdengar erisik dengan candaannya yang sangat menarik untuk dibahas.
“are you okay?” Bisma mengernyitkan alisnya heran melihat
Fannie yang sedari tadi tampak gelisah.
“yes Iam.” Jawabnya singkat.
“ada apa dengan kursi itu? Adakah hal yang membuatmu
tidak nyaman untuk kau duduki di kursi mobilku itu?” Bisma mulai curiga, sesekali
ia menatap gadis bermata gelap itu tanpa harus takut kehilangan konsentrasi
menyetirnya itu.
“–ng tidak, aa aa akuu hanya aa..”
“hanya apa?” Bisma semakin penasaran olehnya. Lantas
menatap gadis itu dengan tatapan intens dan semakin membuat Fannie merasa Insecure.
“Bismaaa awaaasssss.........”
Fannie berteriak sekencang-kencangnya, bisma baru saja
kehilangan kendali menyetir. Lelaki itu nampak kebingungan sekarang, pedal gas
nya ia maju mundurkan sementara setirnya ia putar dengan cepat untuk menggambil
keseimbangan mengemudinya.
Brruuuussssshhhh...
Suara
benturan keras sangat terdengar ditengah tengah jalan, mobil itu baru saja
menghantam pohon besar yang berada dipinggir jalan. Bisma kehilangan
konsentrasi menyetirnya hilang seketika. Kaca-kaca mobil itu pecah, mobil itu
rusak berat. Bisma mengalami benturan keras pada kepalanya , begitu juga dengan
Fannie, teman-teman yang lainnya mengalami luka ringan karena serpihan kaca mobil
yang pecah. Suara aneh mulai terdengar beberapa menit setelah mobil itu
menghantam pohon besar.
“cepat.. cepat keluar fannie. Jess.. cepat bawa fannie
keluar. Mobil ini akan segera meledak.” Bisma memerintah kepada jesica untuk
membawa fannie keluar dari mobilnya. Suara lelaki itu sangat purau, nampaknya
ia baru saja kehilangan banyak energi dan.. astaga darah dikepala Bisma mulai
bercucuran dengan derasnya.
Jessica dan Rachel telah mengelurkan Fannie dari dalam
mobil itu, sedangkan mario sangat kesulitan untuk mengeluarkan Bisma, mengingat
kondisi Bisma yang telah pingsan dengan darah bercucuran di kepalanya. Bisma
terjebak di dalam mobil.
Gerombolan warga setempat mulai datang untuk
menyelamatkan korban-korban yang baru saja mengalami kecelakaan.
“call
the ambulance, please..” salah seorang
warga mengingatkan untuk menelfon ambulance.
“cepat menyingkir dari mobil itu.. selamatkan diri
kalian, mobil itu akan segera meledak..”
*********
Fannie’s view
Bukankah aku pernah bilang, aku sama sekali tidak
menyukai summer, aku sangat benci dengan summer. Aku benci dengan kegiatan yang
pernah dilakukan ketika summer. Dan lihat sekarang.. lihaat.. aku kembali rapuh
karena summer, hidupku hampir berakhir karena summer.
Aku membulatkan kelopak mataku melihat Bisma yang sedang terbaring
di ruang ICU. Keadaannya sangat lemas, lelaki itu tampak tidak mempunyai
sedikit tenaga untuk berdiri, jangankan hanya berdiri untuk bicarapun kali ini
dia tidak bisa. Beberapa alat-alat dokter mulai terpasang ditubuhnya. Kelopak
matanya berkaca-kaca, ia masih sempat melirikku yang sedari melihatnya dibalik
kaca tembus pandang diruangan itu.
Aku mengepalkan tanganku membentuk bulatan tinju, kelopak
mataku memanas. Ini semua karenaku. Ini semua ulahku, aku yang menyebabkan
semuanya menjadi seperti ini. Aku ingat kepingan klise pada saat ayah terbaring
lemas di ICU itu, tempat dan kondisi yang sama dengan yang dialami bisma saat
ini.
Tidak.. bisma harus pulih. Bisma harus bertahan. Aku
tidak ingin kehilangan Bisma, aku tidak ingin kehilangan Bisma seperti saat aku
kehilangan ayah. Bisma mengembangkan sedikit
bibirnya membentuk seulas senyuman, ia mencibirku yang sedang menangis.
Aku lantas tersenyum untuk menguatkannya. Aku tahu Bisma kuat, dia akan
bertahan. Bisma tidak boleh kalah dengan rasa sakit itu.
“kau harus bertahan Bis” suaraku terdengar purau,
berusaha menyemangatinya meski aku tau Bisma tidak akan mendengar suaraku yang
terhalang oleh kaca tembus pandang.
“Bissmaaaaa.....”
********
Tiga jam telah berlalu, aku dan yang lain masih setia
menunggu didepan ruang ICU, menunggu Dokter mengatakan sesuatu tentang keadaan
Bisma. Aku tak henti-hentinya menangis, jessica meminjamkan pundaknya untukku,
lantas aku menenggelamkan mukaku dalam-dalam disitu.
“semuanya akan baik-baik saja, Bisma pasti kuat” suara berat Mario mencoba menenangkanku yang
sudah tenggelam dalam kesedihan yang mendalam.
“ini semua karnaku..”
“tidak fannie, tidakk. Semua ini adalah rencana-Nya”
“tapi jess.. ini semua tidak akan terjadi jika saja Bisma tidak memperhatikanku tadi, aku benar-benar wanita pembawa sial!!!”
“tapi jess.. ini semua tidak akan terjadi jika saja Bisma tidak memperhatikanku tadi, aku benar-benar wanita pembawa sial!!!”
Creeaakk..
pintu ICU terbuka, seorang dokter keluar dan menampakkan dirinya di depan pintu
ICU. Aku lantas mengambil tongkat dengan gerakan cepat dan menghampiri dokter
itu.
“bagaimana keadaan Bisma dok?” tanyaku sesegukan/
“Bisma kehilangan banyak darah, dan untungnya masih
tersedia kantong darah untuk didonorkan padanya. Semua lukanya telah kami
tangani. Tidak ada luka serius”
“bolehkah kami menemuinya sekarang?” tanya Rachel
menyangga.
“sebaiknya jangan dulu, Bisma butuh istirahat lebih
banyak untuk memulihkan rasa sakitnya”
“pliss dok, hanya sebentar saja” sangganya lagi.
“baiklahh. Tapi hanya satu orang dari kalian yang akan
diperbolehkan masuk kedalam” kata dokter bijak.
“kalau begitu, biarlah Fannie yang masuk kedalam” mario menyuruhku masuk untuk menemui Bisma. Aku melangkahkan kakiku bersama tongkat yang meyangga di lenganku. Bisma sedang tertidur pulas disana, di wajahnya terdapat bekas luka segar yang baru saja di obati oleh dokter. Aku menempatkan bongkongku pada kursi di sebelah kiri ranjang pasien.
“kalau begitu, biarlah Fannie yang masuk kedalam” mario menyuruhku masuk untuk menemui Bisma. Aku melangkahkan kakiku bersama tongkat yang meyangga di lenganku. Bisma sedang tertidur pulas disana, di wajahnya terdapat bekas luka segar yang baru saja di obati oleh dokter. Aku menempatkan bongkongku pada kursi di sebelah kiri ranjang pasien.
“bismaa...” suaraku lirih, mencoba untuk tidak mengganggu
Bisma yang sedang istirahat.
Aku meletakkan tanganku ditangan bisma, menggenggamnya
erat-erat. Lantas deti selanjutnya kelopak mataku memenas. Tidaakk.. jangan
menangis fan, kau tidak boleh terlihat rapuh sekarang.
Tangan Bisma sedikit bergetar, segera mungkin aku menyeka
air mataku yang hampir mengaliri pipiku. Bulu matanya mengerjap dan perlahan
kelopak matanya terbuka. Senyum itu.. senyum itu selalu terpancar indah dari
bibir pria berbola mata pekat itu. Bahkan dalam kondisinya yang seperti
sekarang ini, dia masih sempat untuk menebarkan senyum itu.
“apakah kau habis menangis?” tanyanya mencibirku. Aku
terdiam tidak memberi jawaban atas pertanyaannya. Tangan Bisma semakin
mempererat genggamannya pada tanganku. Kelopak mataku semakin memanas. Tak
kuasa membendung air mata yang sedari tadi ingin meluncur membasahi pipiku.
“heii.. kau jangan menangis fan”
“semua ini karenaku, aku yang menyebabkan kecelakaan
itu...”
“tidak fannie, tidakk. Semuanya terjadi karena memang telah di takdirkan untuk terjadi” suaranya lirihnya mampu menyejukkan hatiku yang sedang dilanda perasaan gundah saat ini. Lelaki berbola mata pekat itu lantas bangun dengan tertatih. Aku menundukkan wajahku dalam-dalam. Berusaha untuk menghindari tatapan Bisma yang sangat.. nyaman. Oh heyy fannie, apa yang kau pikirkan. Aku menggelengkan kepalaku perlahan.
“tidak fannie, tidakk. Semuanya terjadi karena memang telah di takdirkan untuk terjadi” suaranya lirihnya mampu menyejukkan hatiku yang sedang dilanda perasaan gundah saat ini. Lelaki berbola mata pekat itu lantas bangun dengan tertatih. Aku menundukkan wajahku dalam-dalam. Berusaha untuk menghindari tatapan Bisma yang sangat.. nyaman. Oh heyy fannie, apa yang kau pikirkan. Aku menggelengkan kepalaku perlahan.
“look at my eyes..” Bisma memengang daguku lantar
mengangkatnya untukku bisa melihat wajahnya. Aku menurut.
“aku tahu semua masalahmu, aku tahu kenapa kau sangat membenci summer. Dan kau tau apa alasanku tadi mengajakmu keluar?”
“aku tahu semua masalahmu, aku tahu kenapa kau sangat membenci summer. Dan kau tau apa alasanku tadi mengajakmu keluar?”
Aku mengernyikan alisku heran lantas menggelengkan
kepala.
“dengar.. aku, Rachel, Jessica dan Mario mencoba untuk
menghilangkan rasa bencimu terhadapa summer, aku ingkin kau seperti remaja
lainnya yang sangat senang ketika menyambut summer. Meski aku tahu ini tidak
akan berhasil mengingat ayahmuu..... hmm tapi kami yakin, kami akan mengubah
sedikit pandanganmu terhadap summer. Summer tidak seburuk seperti apa yang kau
fikirkan......”
“tapi Bis.. summer yang telah membuatku kehilangan semua
yang aku sayang. Aku kehilangan fungsi kakiku, lalu summer membuatku kehilangan
ayah dan sekarang lihatt.. aku hampir saja kehilangan kamu. Dan ini semua
karena summer” aku memotong pembicaraan Bisma.
“ssttt.. tidak, ini bukan karena summer. Eh eh wait. apa
yang baru saja kamu katakan? Kau kehilangan semau orang yang kamu sayang? Dan
aku salah satunya. Jadi kauu...” pervert ! apa yang baru saja aku katakan? Ohh
tidak.. aku menyeka air mataku yang sedari dari mengairi pipiku. Bisma
tersenyum girang.
“-ng.. maksudku, tentu saja kau termasuk orang yang ku
sayang. Kau adalah sahabatku.... yahh kau adalah sahabatku bis..” huhh !! aku
menghembuskan nafas panjang setelah mengtakan kalimat itu.
“kau yakin hanya sekedar sahabat?” ahh sial ! Bisma
berusaha untuk menggodaku saat ini. Pria itu memincingkan alisnya. Aku membuang
muka darinya, berusaha menahan senyum dan yaa aku tidak mempunyai jawaban dari
pertanyaannya.
“would you be my girlfriend?”
Apa.. apaa? Bisma baru saja mengatakan? Ahh tidak
mungkin. Pria itu menarik wajahku untuk menatapnya kembali. Aku merasa.. yah
aku merasa seluruh wajahku memanas sekarang. Mungkin jika saja aku mengambil
cermin, aku bisa saja melihat wajahku yang sekarang bersemu memerah dengan pipi
merona seperti kulit buah apel. Sial ! aku benar-benar mengutuk keadaan ini,
seketika seperti ada bongkahan kerikil yang menari-nari didalam perutku.
Bisma mendekatkan wajahnya didepan wajahku, sehingga
menyempitkan jarak yang ada diantara kami berdua. Ng.. bisma apa yang ingin kau
lakukan? Aku memejamkan mataku sedalam mungkin. Berharap aku tidak menyadari
apa yang akan terjadi padaku selanjutnya. Aku merasa hidungnya telah menempel
diujung hidungku, dan sesuatu yang hangat membasahi bibirku, aku semakin
memejamkan mataku. Berusaha mengendalikan emosiku. Pria itu mengecup bibirku
perlahan dengan sangat hati-hati. Aku terdiam tidak membalasnya.
“eghhmm... jadi ini yang kalian lakukan di balekang
kami..” rachel? Ya itu suara Rachel. Bisma menjauhkan wajahnya dari wajahku dan
melepaskan ciumannya yang baru saja mandarat dibibirku.
Aku tertunduk malu melihat Rachel, Jessica dan Mario
telah berada didepan ranjang pasien.
“bagaimanamungkin kalian jadian tanpa sepengetahuan
kami?” goda mario dengan suara bassnya.
“heyy guuyss.. kalian telah menganggu momenku barusan..”
canda bisma mengundang tawa dari ruangan itu. “jadi, kita jadian yaa?” Bisma
berbisik lembut ditelingaku. Lagi lagi pipiku terasa panas dan memerah.
******
Dan inilah arti summer bagiku.
Aku menemukan kisah baru dalam summer.
Aku menemukan kisah baru dalam summer.
Aku sadar, meski hidup itu
menyakitkan
Tapi tidak selamanya hidup membuatku sakit.
Tapi tidak selamanya hidup membuatku sakit.
Meski summer telah membuatku
kehilangan banyak hal..
tetapi summer menggantinya dengan hal yang lebih indah dari sebelumnya.
tetapi summer menggantinya dengan hal yang lebih indah dari sebelumnya.
NB : sorry for gaje, sorry for typos, and sorry for
anything :D
this’s my firt story before long lime I didn’t post my story.
I just do my hobby, and this’is my hobby –writing-
perhaps there’s somebody who read my note although I know there isn’t anyone who read my notes. But it’s okeyy :)
this’s my firt story before long lime I didn’t post my story.
I just do my hobby, and this’is my hobby –writing-
perhaps there’s somebody who read my note although I know there isn’t anyone who read my notes. But it’s okeyy :)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar